<!– @page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>
Kampungan, julukan yang kurang menyenangkan bagi sebagian orang. Bahkan bagi orang kampung sekalipun. Kampungan atau kalau Tukul Arwana bilang ”ndeso” adalah istilah yang sering digunakan untuk merujuk kepada sikap-sikap “terbelakang”, “tidak tahu tata-krama” dan sebagainya.(http://id.wikipedia.org/wiki/Kampung). Atau dengan kata lain, kampungan hampir sudah pasti bisa dimaknai merem teknologi.”
Padahal jika kita lihat kondisi geografis Indonesia, hampir 79 % wilayah Indonesia terdiri dari daerah pedesaan (sumber : http://indonesiamemilih.kompas.com). Wilayah seluas ini meliputi 65.829 desa.
Sebenarnya bukan status ”ndeso-nya” yang salah. Hanya saja, stigma orang kampung bagi sebagian besar orang Indonesia menjadi kurang menguntungkan. Terutama untuk mengadu peruntungan ke kota yang sarat dengan persaingan.
Lalu, bagaimana mengubah wajah ”kampung”? Bagi anda yang tertarik, anda tepat membaca artikel ini.
Jawabannya hanya satu, melek edukasi atau pendidikan.
Pendidikan menurut kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai proses pengubahan cara berpikir atau tingkah laku dengan cara pengajaran, penyuluhan dan pelatihan. Pendidikan bagi orang-orang kampung memang kadang tidak menjadi prioritas, kalah oleh kepentingan membangun rumah gedong, punya sawah luas yang kalau panen jemuran padinya memanjang sepanjang jalan, dan sapi banyak. Itu saja sudah cukup menggambarkan kesejahteraan.
Alasannya pragmatis, ngapain sekolah tinggi-tinggi, menghabiskan uang banyak, toh sama-sama buat cari kerja. Mending lulus SD atau SMP langsung kerja. Sama-sama menghasilkan uang. Tapi realita berkata lain, memang sama-sama kerja antara lulusan orang kuliahan dengan lulusan SD atau SMP. Tapi kita lihat orang kuliahan kerjanya di perusahaan-perusahaan besar, memegang komputer, berkutat dengan teknologi dan bergaji tinggi. Sedangkan lulusan SD atau SMP sama juga kerja di perusahaan ”besar” semacam konveksi, namun waktu gajian, meringis karena hanya pas untuk bayar utang dan kebutuhan sebulan.
Makanya wong ndeso wajib melek pendidikan. Caranya? Bentuk Kampung Pintar.
Kampung pintar adalah sebuah desain berkelanjutan dan dikelola untuk memodernkan orang kampung, tanpa mencabutnya dari akar budaya setempat. Bagaimana mewujudkan kampung pintar? Silahkan teruskan baca artikel ini, semoga bisa diterapkan di kampung anda.
Pertama kali yang harus dilakukan setelah bab niat adalah membentuk manajemen kampung pintar. Sebuah struktur sederhana yang melibatkan orang dalam (masyarakat kampung setempat) sebagai pelaksana harian, dan orang luar (masyarakat luar yang lebih modern) sebagai pembina. Struktur ini harus berjalan efektif, karena program kampung pintar paling tidak memakan waktu tiga tahun pendampingan sebelum dimandirikan sebagai kampung modern.
Hal kedua adalah merancang kegiatan rintisan kampung pintar, yaitu rumah baca. Rintisan kampung pintar bisa dimulai dari kegiatan anak-anak. Mengapa anak-anak? Karena merekalah penentu hari esok, sehingga memegang peran strategis untuk melakukan perubahan. Selain juga karena alasan psikologis, bahwa anak-anak paling mudah menyerap hal-hal baru dalam hidupnya. Hal paling sederhana dan mudah untuk dilakukan adalah pengajian TPA, atau bimbingan belajar (bimbel). Pelaksanaan TPA dan bimbel ini harus memiliki kurikulum, paling tidak ada penjenjangan, dan evaluasi per naik jenjang. Sehingga akan dapat memetakan threatment-threatment untuk tiap anak yang berbeda.
Setelah pengajian TPA atau bimbel berjalan, lengkapi koleksi media pembelajarannya dengan adanya rumah pintar. Rumah pintar menjadi sekretariat sekaligus tempat nongkrong produktif untuk warga setempat. Fasilitas pertama yang ada di rumah pintar adalah rumah baca atau bisa dijabarkan sebagai perpustakaan mini. Koleksi rumah baca tidak melulu buku-buku pelajaran, karena akan membuat jenuh. Tapi perlu dilengkapi dengan buku-buku praktis sehari-hari, misal kreativitas, psikologi, novel, kisah kesuksesan orang besar, dongeng-dongeng kepahlawanan, bahkan koleksi untuk para orang tua seperti resep masakan, kreasi jahit, sulam, berkebun, bertani, beternak, dan berwirausaha.
Kegiatan rumah baca juga perlu dikreasikan sehingga menjadi tempat yang nyaman. Misal dengan adanya kegiatan rutin yang bersifat temporer seperti pelatihan motivasi, nonton film, mendongeng, kursus menulis, kursus kreativitas, olah raga bersama, out bond, dan bahkan berkemah bersama.
Tahap ketiga, adalah perluasan kegiatan untuk para orang tua. Mendidik orang tua tentu harus menggunakan resep AMBAK (Apa Manfaatnya Buat Aku?). Pelatihan-pelatihan singkat yang sifatnya aplikatif akan lebih menarik minat para orang tua untuk masuk dalam bagian kampung pintar. Beberapa pelatihan dan workshop yang bisa dilakukan untuk ibu-ibu adalah pentingnya pendidikan, kesehatan keluarga, pelatihan kesehatan ibu hamil, perawatan ibu dan bayi, pelatihan pengolahan dan penyajian pangan bergizi, sanitasi, kursus parenting, perencanaan keuangan keluarga dan juga kursus masak dan kreativitas (kecantikan, membuat hiasan rumah, dan busana). Sedangkan bapak-bapak bisa dilibatkan dalam kegiatan pelatihan pengelolaan keuangan untuk pendidikan, kursus parenting, kesehatan keluarga, pembuatan dan penjagaan sanitasi, pelatihan kewirausahaan, pertanian, perkebunan, dan peternakan. Kegiatan orang tua dan rumah baca bisa saling bersinergi, dan dalam pelaksanaanya bisa dilakukan bersama-sama.
Setelah warga kampung mantap dengan berbagai kegiatan berjalan, perlu kiranya mendapat pencerahan informasi dengan teknologi modern seperti internet. Pemasangan instalasi internet yang bisa digunakan massal bisa menjadi alternatif untuk diterapkan. Misal RT/RW net Onno W Purbo.
Tahap keempat adalah optimalisasi ekonomi lokal. Karena keterbatasan informasi, umumnya warga kampung menjalankan kegiatan ekonominya secara sederhana. Hal ini menimbulkan perkembangan yang lambat dalam mewujudkan kesejahteraan keluarganya. Oleh karena itu, pada tahap optimalisasi ekonomi ini perlu dilakukan upaya pendampingan dalam hal pengelolaan kegiatan pertanian, mulai dari persiapan pra tanam hingga pengolahan paska panen. Selain usaha pertanian sebagai tiang sumber ekonomi utama, masyarakat bisa mulai menjalankan usaha sampingan seperti peternakan, industri rumah tangga, perkebunanan tanaman produksi, dan perdagangan.
Upaya optimalisasi ini akan semakin mantap pengelolaannya dengan koperasi atau Baitul Mal wa Tamwil (BMT). Keberadaan koperasi atau BMT selain memutarkan dana warga, juga akan sangat berguna untuk membantu warga merencanakan keuangan untuk pendidikan anak-anaknya.
Tahap kelima adalah kemandirian kampung pintar. Kemandirian sebenarnya dimaknai sebagai kemampuan warga kampung untuk menjalankan kegiatan kampung pintar sendiri. Karena lambat laun pembina yang berasal dari masyarakat luar harus keluar dari manajemen.
Pertanyaan selanjutnya tentu berkaitan dengan dana. Dari mana kampung pintar mendapatkan dana operasionalnya?
Masalah dana bisa dijawab dengan persiapan konsep dan operasional yang matang. Dalam artian, banyak donatur yang berasal dari pemerintah, perusahaan maupun komunitas yang konsen pada pendidikan anak bangsa. Persiapan konsep dan operasional yang matang akan membantu pemasaran keberadaan kampung pintar. Bahkan bisa jadi kampung pintar ini akan menjadi model yang bisa diduplikasi oleh daerah lain.
Jadi, siapkah anda mengubah wajah kampung anda?