Ini kisah nyata dari kawasan Jabodetabek. Seorang lulusan universitas terbaik di negeri ini memutuskan untuk menjadi guru di sekolah menengah. Sebut saja ia Pak Guru. Sekolah pertama yang Pak Guru masuki adalah sekolah swasta yang siswanya berasal dari kalangan menengah ke atas. Dengan bekal pelatihan dan semangat bersama teman-temanya yang juga lulusan universitas terbaik, mereka mulai bekerja. Setelah 6 bulan Pak Guru jatuh sakit. Sebagian penyebabnya adalah karena ketidaksiapan mental menghadapi ‘kenakalan’ khas anak remaja. Ia tetap berusaha keras mencari berbagi informasi dan mengikuti berbagai pelatihan. Satu tahun berselang, ia dan beberapa temannya berkonflik dengan yayasan. Masalahnya sederhana bagi para guru ada beberapa kondisi yang harus dipenuhi agar sekolah berjalan optimal, sementara bagi yayasan tidak mudah memenuhi kebutuhan tersebut. Titik temu yang tidak didapatkan mengakibatkan beberapa guru akhirnya memutuskan keluar. Sebagian dari mereka menjadi dosen, sebagian lagi bekerja di sektor non pendidikan, dan beberapa tetap menjadi guru. Ada yang memutuskan menjadi guru PNS, ada pula yang tetap bertahan di sekolah swasta.
Pak guru memilih tetap menjadi guru di sekolah swasta lain. Pak Guru kembali berkumpul dengan rekan-rekannya yang penuh idealisme. Kembali memupuk semangat memberikan yang terbaik untuk murid-muridnya. Lima tahun berlalu, keresahan terjadi ketika keteladanan dari pimpinan sekolah dan nilai-nilai budi pekerti bukan lagi menjadi hal yang utama di sekolah. Para guru meminta pada yayasan untuk kembali kepada nilai-nilai idealisme awal. Ketika titik temu dengan pihak yayasan tidak ditemukan. Kelompok guru ini akhirnya pecah. Beberapa orang dipecat, beberapa mengundurkan diri, dan yang lain tetap bertahan di sekolah mereka. Mereka yang mengundurkan diri sebagian tetap bertahan menjadi guru di sekolah lain, sebagian lain berpindah karier menjadi dosen, ibu rumah tangga, atau karyawan profesional. Mereka yang bertahan di sekolah lama tetap menjadi guru, namun tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi di tempat kerja mereka. Keteladanan dan nilai-nilai bukan lagi menjadi idealisme mereka. Sementara Pak Guru termasuk kelompok yang dipecat. Ia tidak lagi ingin menjadi guru. Pak Guru berpindah karier. Ia kapok menjadi guru….
***
Menjadi guru, adalah pekerjaan mulia. Ini cerita yang terus-menerus didongengkan orang tua kita dari masa ke masa. Namun bersamaan dengan waktu seseorang menjadi guru saat ini, sebagian besar bukan karena cita-cita namun karena keadaan. Orang-orang terbaik alumni universitas sangat jarang yang memutuskan untuk bekerja di sekolah. Kalaupun mereka memutuskan bekerja dalam dunia pendidikan, kebanyakan lebih betah untuk menjadi dosen di Perguruan Tinggi.
Apa yang salah dengan profesi guru? Mengapa profesi ini begitu jarang diminati? Jika jawabannya menyangkut kesejahteraan yang sangat minim, bukankah dosen di beberapa universitas keadaannya juga tidak jauh berbeda dengan para guru?
***
Menjadi seorang guru berarti menjadi seorang pendidik, bukan hanya seorang pengajar. Menjadi guru berarti mendampingi anak-anak menuju kedewasaan mereka. Pekerjaan menyiapkan materi ajar dan mengajarkannnya di depan kelas bagi seorang guru, juga dilakukan oleh semua yang berpredikat pengajar. Namun kekhasan guru juga terletak pada waktu yang disisihkan untuk mendampingi para siswa di luar jam mengajar. Ketika seorang siswa tidak masuk, murung di kelas, atau berkelahi dengan sesama teman tugas seorang gurulah untuk mendampingi mereka. Meluangkan waktu untuk berbicara dengan para siswa di waktu istirahat atau saat pulang sekolah akan membantu kematangan para siswa. Proses ini akan jauh lebih bermakna bagi siswa di kemudian hari dibandingkan materi pelajaran di kelas. Di sekolah-sekolah yang siswanya berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah proses ini sangat dibutuhkan. Penelitian yang dilakukan tim psikologi SMART Ekselensia Indonesia, sekolah menengah bebas biaya bagi anak-anak berpotensi namun mengalami kelemahan di bidang ekonomi, menunjukkan bahwa profil kecerdasan para siswa rendah pada 2 aspek yakni antisipasi sosial dan melihat inti masalah. Taraf kemampuan antisipasi sosial memperlihatkan bahwa siswa masih pada taraf mengenal konsep normatif yang boleh dan tidak / baik dan buruk namun belum mampu menginternalisasikan kepada keterampilan sosial yang mereka jalani sehari-hari. Sedangkan kemampuan melihat inti permasalahan adalah kemampuan yang membantu siswa membuat penilaian dan mengambil keputusan. Rendahnya aspek ini diduga karena pengaruh latar belakang sosial, kekurang percayaan diri dan minimnya latihan. Para guru di sekolah dapat membantu meningkatkan ketrampilan ini melalui kegiatan-kegiatan yang menstimulasi kreativitas dalam mendapatkan solusi masalah.
Kohlberg (1992) bahkan menekankan bahwa dalam upaya meningkatkan tahap pemikiran para siswa di bidang moral, dibutuhkan adanya atmosfir pertukaran dan dialog dimana konflik moral diperbincangkan dalam suasana yang sangat terbuka. Sekali lagi dibutuhkan kesediaan guru untuk meluangkan waktu bersama siswa, yang tidak mungkin dilakukan di jam intra kurikuler yang sangat terbatas.
Selain kewajiban untuk meluangkan waktu bagi siswa, sebagian besar guru tidak lagi memiliki waktu untuk mengembangkan diri mereka. Mengasah intelektual lewat membaca buku bukan tidak mau mereka lakukan. Namun harga buku yang menguras pendapatan mereka ditambah lagi perpustakaan sekolah yang minim literatur menjadi penyebabnya. Kegiatan intelektual lain di bidang penelitian agak sulit juga dilakukan para guru. Tidak seperti para dosen yang memiliki kesempatan untuk melakukan penelitian, guru hampir tidak memiliki waktu untuk meneliti. Sebagian besar guru menjadi ’sarjana pohon pisang’. Melakukan penelitian hanya sekali untuk meraih gelar kesarjanaan saja. Setelah bekerja di sekolah tidak ada waktu lagi untuk meneliti. Meskipun sebenarnya sekolah sangat memerlukan hasil-hasil penelitian untuk mengimbangi kemajuan sektor-sektor lain. Sekolah saat ini memang menjadi sebuah tempat yang tidak pernah berubah, bahkan ketika mereka yang dulu belajar di sana telah jauh berubah.
Jadi…. siapa yang betul-betul berminat jadi guru?