May 20

Ini kisah nyata dari kawasan Jabodetabek. Seorang lulusan universitas terbaik di negeri ini memutuskan untuk menjadi guru di sekolah menengah. Sebut saja ia Pak Guru. Sekolah pertama yang Pak Guru masuki adalah sekolah swasta yang siswanya berasal dari kalangan menengah ke atas. Dengan bekal pelatihan dan semangat bersama teman-temanya yang juga lulusan universitas terbaik, mereka mulai bekerja. Setelah 6 bulan Pak Guru jatuh sakit. Sebagian penyebabnya adalah karena ketidaksiapan mental menghadapi ‘kenakalan’ khas anak remaja. Ia tetap berusaha keras mencari berbagi informasi dan mengikuti berbagai pelatihan. Satu tahun berselang, ia dan beberapa temannya berkonflik dengan yayasan. Masalahnya sederhana bagi para guru ada beberapa kondisi yang harus dipenuhi agar sekolah berjalan optimal, sementara bagi yayasan tidak mudah memenuhi kebutuhan tersebut. Titik temu yang tidak didapatkan mengakibatkan beberapa guru akhirnya memutuskan keluar. Sebagian dari mereka menjadi dosen, sebagian lagi bekerja di sektor non pendidikan, dan beberapa tetap menjadi guru. Ada yang memutuskan menjadi guru PNS, ada pula yang tetap bertahan di sekolah swasta.
Pak guru memilih tetap menjadi guru di sekolah swasta lain. Pak Guru kembali berkumpul dengan rekan-rekannya yang penuh idealisme. Kembali memupuk semangat memberikan yang terbaik untuk murid-muridnya. Lima tahun berlalu, keresahan terjadi ketika keteladanan dari pimpinan sekolah dan nilai-nilai budi pekerti bukan lagi menjadi hal yang utama di sekolah. Para guru meminta pada yayasan untuk kembali kepada nilai-nilai idealisme awal. Ketika titik temu dengan pihak yayasan tidak ditemukan. Kelompok guru ini akhirnya pecah. Beberapa orang dipecat, beberapa mengundurkan diri, dan yang lain tetap bertahan di sekolah mereka. Mereka yang mengundurkan diri sebagian tetap bertahan menjadi guru di sekolah lain, sebagian lain berpindah karier menjadi dosen, ibu rumah tangga, atau karyawan profesional. Mereka yang bertahan di sekolah lama tetap menjadi guru, namun tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi di tempat kerja mereka. Keteladanan dan nilai-nilai bukan lagi menjadi idealisme mereka. Sementara Pak Guru termasuk kelompok yang dipecat. Ia tidak lagi ingin menjadi guru. Pak Guru berpindah karier. Ia kapok menjadi guru….

***

Menjadi guru, adalah pekerjaan mulia. Ini cerita yang terus-menerus didongengkan orang tua kita dari masa ke masa. Namun bersamaan dengan waktu seseorang menjadi guru saat ini, sebagian besar bukan karena cita-cita namun karena keadaan. Orang-orang terbaik alumni universitas sangat jarang yang memutuskan untuk bekerja di sekolah. Kalaupun mereka memutuskan bekerja dalam dunia pendidikan, kebanyakan lebih betah untuk menjadi dosen di Perguruan Tinggi.
Apa yang salah dengan profesi guru? Mengapa profesi ini begitu jarang diminati? Jika jawabannya menyangkut kesejahteraan yang sangat minim, bukankah dosen di beberapa universitas keadaannya juga tidak jauh berbeda dengan para guru?
***
Menjadi seorang guru berarti menjadi seorang pendidik, bukan hanya seorang pengajar. Menjadi guru berarti mendampingi anak-anak menuju kedewasaan mereka. Pekerjaan menyiapkan materi ajar dan mengajarkannnya di depan kelas bagi seorang guru, juga dilakukan oleh semua yang berpredikat pengajar. Namun kekhasan guru juga terletak pada waktu yang disisihkan untuk mendampingi para siswa di luar jam mengajar. Ketika seorang siswa tidak masuk, murung di kelas, atau berkelahi dengan sesama teman tugas seorang gurulah untuk mendampingi mereka. Meluangkan waktu untuk berbicara dengan para siswa di waktu istirahat atau saat pulang sekolah akan membantu kematangan para siswa. Proses ini akan jauh lebih bermakna bagi siswa di kemudian hari dibandingkan materi pelajaran di kelas. Di sekolah-sekolah yang siswanya berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah proses ini sangat dibutuhkan. Penelitian yang dilakukan tim psikologi SMART Ekselensia Indonesia, sekolah menengah bebas biaya bagi anak-anak berpotensi namun mengalami kelemahan di bidang ekonomi, menunjukkan bahwa profil kecerdasan para siswa rendah pada 2 aspek yakni antisipasi sosial dan melihat inti masalah. Taraf kemampuan antisipasi sosial memperlihatkan bahwa siswa masih pada taraf mengenal konsep normatif yang boleh dan tidak / baik dan buruk namun belum mampu menginternalisasikan kepada keterampilan sosial yang mereka jalani sehari-hari. Sedangkan kemampuan melihat inti permasalahan adalah kemampuan yang membantu siswa membuat penilaian dan mengambil keputusan. Rendahnya aspek ini diduga karena pengaruh latar belakang sosial, kekurang percayaan diri dan minimnya latihan. Para guru di sekolah dapat membantu meningkatkan ketrampilan ini melalui kegiatan-kegiatan yang menstimulasi kreativitas dalam mendapatkan solusi masalah.
Kohlberg (1992) bahkan menekankan bahwa dalam upaya meningkatkan tahap pemikiran para siswa di bidang moral, dibutuhkan adanya atmosfir pertukaran dan dialog dimana konflik moral diperbincangkan dalam suasana yang sangat terbuka. Sekali lagi dibutuhkan kesediaan guru untuk meluangkan waktu bersama siswa, yang tidak mungkin dilakukan di jam intra kurikuler yang sangat terbatas.
Selain kewajiban untuk meluangkan waktu bagi siswa, sebagian besar guru tidak lagi memiliki waktu untuk mengembangkan diri mereka. Mengasah intelektual lewat membaca buku bukan tidak mau mereka lakukan. Namun harga buku yang menguras pendapatan mereka ditambah lagi perpustakaan sekolah yang minim literatur menjadi penyebabnya. Kegiatan intelektual lain di bidang penelitian agak sulit juga dilakukan para guru. Tidak seperti para dosen yang memiliki kesempatan untuk melakukan penelitian, guru hampir tidak memiliki waktu untuk meneliti. Sebagian besar guru menjadi ’sarjana pohon pisang’. Melakukan penelitian hanya sekali untuk meraih gelar kesarjanaan saja. Setelah bekerja di sekolah tidak ada waktu lagi untuk meneliti. Meskipun sebenarnya sekolah sangat memerlukan hasil-hasil penelitian untuk mengimbangi kemajuan sektor-sektor lain. Sekolah saat ini memang menjadi sebuah tempat yang tidak pernah berubah, bahkan ketika mereka yang dulu belajar di sana telah jauh berubah.
Jadi…. siapa yang betul-betul berminat jadi guru?

May 11

Sekedar berbagi sedikit pengetahuan dan secuil pengalaman yang saya miliki. Mudah-mudahan berguna untuk mengoptimalisasi potensi buah hati tercinta.

1.Memilih Taman Bermain (play group) dan Taman Kanak-kanak (TK).

Kebutuhan anak harus menjadi tolok ukur utama dalam memilih play group (PG) atau TK. Meskipun semua PG dan TK selalu menginformasikan bahwa semua aspek anak akan dikembangkan, namun pada faktanya tidak semua bisa dipenuhi. Anak-anak yang pemalu tentu membutuhkan PG/TK yang menekankan sosialisasi sebagai bagian utama dari kurikulumnya. Hal ini jelas berbeda dengan anak-anak yang belum memiliki ketrampilan motorik kasar, mereka memerlukan sekolah yang banyak mengembangkan kegiatan olah raga.

Lokasi sekolah juga harus menjadi pertimbangan. Bukan jauh atau dekatnya, tetapi bagaimana selama perjalanan anak memiliki interaksi yang positif. Sekolah yang dekat akan menjadi kurang nyaman bila berdekatan dengan pasar atau pusat kemacetan. Sebaliknya meskipun lokasi agak jauh, namun obrolan yang bermutu antara ayah/ibu dan anak selama perjalanan akan menjadi hal yang selalu dinanti saat pergi sekolah.

2.Sekolah Dasar
Jika ada SD yang mensyaratkan hasil tes IQ sebagai syarat masuk siswa, maka orang tua perlu menggali kegunaannya. Apakah hanya untuk asesmen awal bagi perlakuan yang dibutuhkan siswa atau sekolah tersebut memang hanya menerima anak-anak dengan IQ yang telah ditentukan. Jangan sampai orang tua kecewa saat anak tidak diterima. Akan lebih berbahaya jika kekecewaan justru dialami anak kita.

Untuk SD yang mengaku sebagai Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) pastikan bahwa sekolah tersebut telah tergabung dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT). Meskipun JSIT belum memiliki akreditasi bagi sekolah-sekolah yang tergabung di dalamnya, namun program pengembangan yang ada di dalamnya paling tidak akan memandu seklah untuk tidak sekedar memberikan ‘label Islam’ hanya karena sekolah menerapkan kewajiban menutup aurat bagi siswanya.

Khusus untuk sekolah yang mengaku sebagai sekolah nasional plus, carilah informasi apakah sekolah tersebut memang sudah bergabung dengan Association National Plus School (ANPS). Tanyakan pula akreditasi yang telah mereka peroleh. Khusus untuk akreditasi, ANPS menerapkan ketentuan yang sangat ketat namun transparan.

Cara termudah untuk mengetahui sekolah adalah ‘tidak datang pada saat open house’. Saat open house sekolah biasanya dalam keadaan baik, rapi dan teratur. Datanglah pada hari biasa, sekedar untuk melihat keadaan harian sekolah, namun jangan banyak bertanya karena akan mengganggu kegiatan harian sekolah.
Terakhir untuk orang tua yang menginginkan anak-anak memiliki ketrampilan berbahasa asing hal yang harus dipikirkan adalah masalah keberlanjutan. Khususnya pada saat alih jenjang pendidikan yaitu dari kelompok bermain atau taman kanak-kanak ke sekolah dasar, dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama. Aspek keberlanjutan ini dapat terkait dengan materi maupun hal-hal lainnya.
Sebagai penutup mudah-mudahan tabel dibawah ini yang dikutip dari tulisan Meiranie N. A. (Sumber: Majalah Inspire Kids) dapat membantu para orang tua yang memilih sekolah/kurikulum internasional untuk anak-anaknya.
Selamat menemukenali sekolah terbaik untuk anak-anak kita.

Usia/ Tahun
Indonesia (nasional)
IB*
Cambridge**
Singapore
Australia
Amerika Serikat
3-4
Kelompok bermain
PYP
CIPP
Pre-Nursery & Nursery
Kindergarten
Play school
4-5
TK A
PYP
CIPP
Kindergarten
Pre School
Pre School
5-6
TK B
PYP
CIPP
Kindergarten
Reception
Kindergarten
6-7
SD 1
PYP
CIPP
Primary 1
Year 1
Kindergarten
7-8
SD 2
PYP
CIPP
Primary 2
Year 2
First Grade
8-9
SD 3
PYP
CIPP
Primary 3
Year 3
Second Grade
9-10
SD 4
PYP
CIPP
Primary 4
Year 4
Third Grade
10-11
SD 5
PYP
CIPP
Primary 5
Year 5
4th Grade
11-12
SD 6
PYP
CLSP
Primary 6
Year 6
5th Grade
12-13
SMP 1
MYP
CLSP
Secondary 1
Year 7
6th Grade
13-14
SMP 2
MYP
CLSP
Secondary 2
Year 8
7th Grade
14-15
SMP 3
MYP
IGCSE
Secondary 3
Year 9
8th Grade
15-16
SMA 1
MYP
IGCSE
Secondary 4
Year 10
9th Grade
16-17
SMA 2
DP
CI A Level
Pre Uni 1
Year 11
10th Grade
17-18
SMA 3
DP
CI A Level
Pre Uni 2
Year 12
11th & 12th Grade

* IB (International Baccalaureate)

Program-program IB dikelola oleh organisasi non pemerintah, International Baccalaureate Organization (IBO) yang bermarkas di Geneva, Swiss. Program IB sudah diserap di lebih dari 90 negara. Sekolah yang menggunakan harus mendapat pengesahan untuk mendapatkan sertifikat dari International Baccalaureate Organisation (IBO) di Jenewa, Swiss.

**Cambridge = Cambridge International Examinations (CIE)

CIE adalah bagian dari The Cambridge Assessment Group, organisasi nirlaba di bawah University of Cambridge. Jaringan penyelenggara sistem kurikulum yang telah digunakan di sekolah-sekolah di 150 negara. Secara berkala Dewan dan Sindikasi Universitas akan memantau dan mengarahkan pelaksanaan sistem Cambridge di seolah-sekolah yang menggunakan sistem ini.

May 5

Teknologi Informasi dan komunikasi (TIK) merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah menengah di Indonesia. Menarik mencermati bidang studi ini,mengapa? Salah satu materi dalam kurikulum TIK di sekolah menengah adalah etika dan moral dalam penggunaan komputer. Pemahaman terhadap aturan untuk penggunaan perangkat keras maupun perangkat lunak adalah kompetensi yang harus dimiliki siswa. Bahkan materi ini diperkuat lagi dengan pemahaman khusus tentang Undang-Undang Hak Cipta. Anehnya, pada saat yang bersamaan mayoritas siswa kita belajar dengan menggunakan komputer yang berlisensi spanyol (separo nyolong) atau berlisensi GPL (Glodok Public License). Hanya sedikit sekolah yang mampu atau mendapat bantuan untuk memiliki lisensi legal untuk komputernya. Pendidikan berkarakter, hanya menjadi sebuah cerita dalam kasus ini.
Pendidikan berkarakter mensyaratkan keterlibatan pengetahuan, perasaan, dan tindakan untuk keefektivitasannya. Dalam mata pelajaran TIK, seringkali keterbatasan sumber daya, baik perangkat maupun sumber daya manusianya menjadi alasan terjadinya hal tersebut. Dalam statistik persekolahan 2004/2005, prosentase ruang laboratorium terhadap jumlah sekolah masih belum memuaskan. Untuk propinsi di Pulau Jawa, Banten hanya memperoleh nilai 87%, untuk laboratorium IPA, bahasa, dan IPS tidak termasuk komputer. Artinya kemungkinan besar jika laboratorium komputer menjadi salah satu faktor yang dihitung, angkanya mungkin akan lebih buruk lagi. Bukan rahasia lagi bahwa sebagian guru mengajarkan TIK hanya berupa materi tanpa praktik seperti mata pelajaran Bahasa Indonesia atau matematika. Guru TIK sendiri sampai saat ini, kebanyakan adalah para guru bidang studi lain yang dianggap memiliki kemampuan untuk mengajarkan mata pelajaran tersebut.
Pertanyaan mendasar adalah berapa lama sekolah di indonesia harus keluar dari masalah ini? Bagaimana jalan keluarnya?
Tahun 2006, sebuah perusahaan multi nasional sempat menyalurkan komputer bekas pakai mereka ke Dompet Dhuafa untuk disalurkan ke beberapa sekolah. Jumlahnya memang tidak banyak, dan spesifikasi komputernya juga tidak terlalu tinggi. Beberapa guru TIK, bahkan mengatakan bahwa kondisi komputer tidak layak untuk aplikasi yang diharapkan oleh kurikulum kita. Benarkah komputer bekas pakai perusahaan tidak layak? Ketidaklayakan komputer terjadi karena para guru mengajarkan produk bukan mengajarkan program aplikasi. Jika program aplikasi pengolah kata menjadi sebuah kompetensi yang harus dikuasai siswa, biasanya para guru akan mengajarkan …. (you know what) untuk materi ini.
Tentu bukan mutlak kesalahan para guru. Di sebuah blog, seorang pakar informatika, Rusmanto Maryanto, memaparkan bagaimana mengajarkan TIK dengan komputer kelas Pentium 2 ke bawah. Blog ini juga dilengkapi dengan kurikulum TIK yang berbasis Linux dan Open source. Linux dan open source sendiri merupakan perangkat lunak yang memiliki kebebasan untuk penggunaannya, untuk mempelajari cara kerjanya, memodifikasinya, bahkan menyebarluaskannya. Persoalannya bagaimana para guru TIK ini dapat mengetahui informasi ini. Keterbatasan akses internet lagi-lagi menjadi alasan untuk masalah ini.
Komarudin Hidayat, menekankan pentingnya keterlibatan pihak swasta dalam menyelesaikan problema pendidikan (Kompas, 3/08/07). Untuk kasus mata pelajaran TIK, keterlibatan pihak swasta adalah solusi pragmatis, kreatif, dan segera. Hampir semua perusahaan, biasanya memiliki agenda khusus untuk mengganti komputer dalam periode tertentu. Akan sangat manis ketika komputer tersebut dihibahkan ke sekolah. Sementara untuk optimalisasi kemanfaatannya, pihak sekolah tentu perlu dibekali ketrampilan untuk mengoptimalkan komputer tanpa mengurangi kualitas kurikulum yang dipersyaratkan. Komunitas-komunitas seperti KPLI (Komunitas Pengguna Linux Indonesia) dapat dilibatkan untuk mempercepat hal tersebut. Komunitas-komunitas inilah yang akan mendorong guru dan siswa untuk tidak menjadi pengguna tetapi menjadi seorang pengembang. Guru tidak lagi mengajarkan produk tetapi mendidik untuk mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Etika dan moral tidak lagi menjadi sebuah materi pelajaran tetapi inheren dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Dan akhirnya, ketika para siswa menjadi pamong negeri ini mereka tidak menjadi bodoh dalam mengantisipasi perkembangan teknologi informasi yang cepat.