Optimalisasi anak-anak marginal…..

“ Jika setiap orang memiliki kesempatan atau menghuni lingkungan yang menunjang, setiap orang dengan kreativitasnya itu akan mampu mengungkapkan segenap potensi yang dimilikinya.”
(A. Maslow dalam buku Personality of Motivation)

Minggu lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah pelatihan di Jakarta. Sesi istrahat, saya bertemu dengan seorang kakak kelas saya di sekolah dulu, siswa terbaik di sekolah kami. Ayahnya seorang supir angkot. Saat ini beliau menjadi karyawan di sebuah bank swasta. Ingatan saya melayang pada murid saya di SMA dulu. Anak pintar yang sempat ikut pertukaran pelajar ke luar negeri. Ayahnya seorang tukang ojek. Saat ini anak tersebut telah menjadi karyawan di sebuah perusahaan produk minuman sehat.
Hati saya bertanya, apa yang salah dengan mereka berdua? Seharusnya mereka bisa menjadi leader bukan karyawan biasa. Ah….
Lima tahun berkecimpung di Lembaga Pengembangan Insani ada dua catatan penting untuk anak-anak yang ekonomi orang tuanya marginal:
1.Kebutuhan berprestasi (need of achievement) anak-anak dari kelompok marginal tidak terlalu tinggi. Modelling dari keluarga diduga menjadi penyebab hal ini.
2.Kebanyakan anak-anak marginal merupakan underachiever (berprestasi di bawah kemampuan). Namun ketika lingkungan memberikan stimulus yang sesuai maka optimalisasi bakat dan potensinya akan terwujud.

Saat ini optimalisasi anak-anak dari kelompok marginal membutuhkan peran seluruh masyarakat. Bayangkan ketika di sekolah menengah, siswa marginal yang beruntung memiliki guru yang peduli akan teroptimalisasi kemampuanya dengan baik. Namun ini akan menjadi sia-sia setelah mereka melanjutkan ke perguruan tinggi.
Mengapa demikian?
Kecenderungan semua individu untuk bergabung dengan kelompok sejenis. Artinya setiap orang akan merasa nyaman dengan lingkungan yang homogen. Saat kuliah ketika anak-anak marginal bergaul kembali dengan sesama marginal, maka motivasi berprestasi akan mengikuti lingkungan sekitarnya. Mereka bisa menjadi leader, namun ketka lingkungan sekitarnya hanya bercita-cita untuk terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan maka lingkungan ini akan mempengaruhi harapan untuk masa depannya kelak.
Saatnya keluarga yang memiliki pendidikan yang lebih baik dan ekonomi berkecukupan menjadi ‘orang tua asuh’ untuk mereka. Bukan uang yang mereka butuhkan tetapi sebuah model kehidupan lain dari yang selama ini mereka jalani. Sebuah cakrawala yang akan meyakinkan mereka bahwa optimalisasi potensi mereka akan membantu bukan saja keluarga mereka tetapi juga tatanan masyarakat yang lebih baik…..
Bogor, Minggu ke-2 April 2009

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.