Cerita Saya
Tiga SMA merupakan masa-masa yang seharusnya membahagiakan, masa-masa terakhir menggunakan seragam abu-abu, dan masa-masa yang menentukan mau jadi apa kita kedepan. Namun ternyata hal itu tidak sepenuhnya dirasakan oleh semua siswa kelas tiga SMA, dan ketidak seragaman perasaan itu juga salah satunya dirasakan oleh saya, seseorang yang bernama Nadya Mentari.
Bagi saya, SMA merupakan masa yang menyenangkan. Masa dimana saya menemukan banyak hal baru. Saya bersekolah di SMAN Cahaya Madani Banten Boarding School, sekolah yang berada dibawah naungan langsung provinsi Banten. Sekolah saya sepenuhnya beasiswa, oleh karena itu saya sangat bersyukur sekali berkesempatan menuntut ilmu di sekolah tersebut, meskipun saya harus jauh dari keluarga yang saya cintai karena sekolah saya bersistem asrama. Namun, akhirnya pada saat kelas tiga, saya baru menyadari bahwa hidup tidak melulu SMA, dan kita harus menentukan langkah selanjutnya kemana kita akan melangkah, atau untuk sekedar memustukan untuk tidak melangkah.
Dan saya pun sadar, bahwa saya belum memiliki skill apa-apa jika saya menghentikan langkah saya dari dunia pelajar, karena selama tiga tahun sekolah kegiatan saya hanya belajar dan belajar tanpa memiliki kesempatan mengaplikasikan ilmu yang saya miliki di luar sekolah. Dan untuk itu saya harus melangkah, melangkah ke jenjang selanjutnya, meneruskan studi saya di Perguruan Tinggi bagaimanapun caranya!!
Ternyata kemauan saja tidak cukup, untuk masuk Perguruan Tinggi kita butuh biaya yang amat sangat tidak sedikit. Karena mungkin pendidikan zaman sekarang tidak berorientasi pada ilmu, melainkan bisnis. Karena hal itulah saya masuk kedalam kelompok orang yang yang memiliki sedikit kesempatan meneruskan pendidikan ke jenjang yang perguruan tinggi. Namun, saya yakin sedikit itu bukan berarti tidak ada.
Saya merupakan anak pertama yang mempunyai dua adik, jika di klasifikaskan berdasarkan stratifikasi sosial, keluarga saya masuk dalam kategori ekonomi menengah kebawah, dengan pendapatan perbulan yang kadang-kadang berkisar antara rata-rata pendapatan perkapita nasional atau kadang dibawah rata-rata tersebut. Hal itu dikarenakan ayah saya yang merupakan satu-satunya tulang punggung keluarga bekerja sebagai karyawan pada sebuah pabrik swasta dengan berbagai kebijakan potongan ataupun tambahan pendapatan perbulannya yang tidak begitu saya mengerti.
Pada dasarnya pendapatan ayah saya perbulan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya, namun belakangan ini kondisi kesehatan ayah saya agak terganggu yang mungkin dipengaruhi oleh faktor umur dan pola hidup yang kurang sehat, sehingga pekerjaannya kurang maksimal dan berdampak pada pendapatan yang diterimanya perbulan. Ayah saya terkena pengeroposan tulang, sehingga kinerja kerjanya agak terhambat.
Orang tua saya sangat mendukung saya untuk melanjutkan kuliah, namun dalam hati saya sendiri apa mungkin bisa? Ditambah lagi adik saya yang paling besar sekarang duduk dikelas 3 SMP, dan tahun depan akan menginjak tingkat SMA yang otomatis membutuhkan biaya yang besar, adik saya yang paling kecil baru duduk di kelas 5 SD, dan tahun 2012 ayah saya sudah pensiun, dan otomatis saya sebagai anak pertama merupakan orang yang selanjutnya diandalkan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan saya nanti. Yang saya tahu mau tidak mau saya harus sukses, karena sukses tidaknya saya sangat berpengaruh terhadap masa depan adik-adik saya.
Dengan kondisi diatas, saya bertekad untuk hidup mandiri. Saya mulai hunting beasiswa, dan Alhamdulillah saya dapat mengetahui beasiswa etos dari kakak kelas saya. Meskipun persyaratannya sangat rumit, dan peluang masuknya sangat kecil, apa salahnya saya mencoba. Dan Alhamdulillah, Saya lolos tahap administrasi yang kemudian dilanjutkan dengan tes tulis dan wawancara. Tes tersebut berhasil saya lewati, hingga tiba ditahap terakhir yaitu survey lapangan. Pada masa menunggu hasil akhir tersebut, saya telah lolos SNMPTN di jurusan yang direkomendasikan etos, dan selama itu pulalah orang tua saya tak henti-hentinya mendoakan saya. Akhirnya penantian yang panjang itupun berakhir sudah, dan saya dinyatakan TIDAK LOLOS.
Saya sangat amat kecewa, ternyata perjuangan saya selama ini nol, tidak ada hasilnya. Namun ditengah kekecewaan saya, orang tua sayalah yang paling lapang dada menerima keTIDAK LOLOSan saya tersebut, padahal saya tahu dibalik kelapang dadaan tersebut otak mereka berfikir “bagaimana biaya anak saya nanti??”. Hal itu pula yang membuat saya semakin kecewa. Namun lambat laun saya mulai bisa menerima, saya seharusnya bersyukur karena telah memiliki kesempatan melanjutkan kuliah meskipun entah bagaimana nantinya, dan selain itu juga saya bersyukur bahwa mungkin ada yang lebih membutuhkan beasiswa tersebut dibanding saya.
Saya kembali menjalani rutinitas hidup seperti biasa. Mengikuti rangkaian kegiatan mahasiswa baru dengan keadaan nomaden (berpindah-pindah), karena pada waktu itu saya belum dapat tempat tinggal. Namun tiba-tiba pada suatu hari saya mendapat informasi dari pihak etos bahwa saya diterima dietos karena ada salah satu orang yang mengundurkan diri. Saya kaget sekaligus bahagia. Saya sangat bersyukur, dan akhirnya saya benar-benar yakin bahwa Allah selalu memberikan jalan kepada hambaNya, bahkan dari jalan yang sangat mustahil sekalipun. Dan kini saya ada disini, merasa lebih beruntung dari teman-teman lain yang sudah mendapatkanya lebih dulu daripada saya.