Blog

Yang dapat dilakukan setelah bergabung ?

June 23, 2009 in LPI by admin

Terima kasih kepada kawan-kawan yang telah bergabung di LPI Social Network. Semoga dengan adanya portal ini, dapat meningkatkan semangat persaudaraan keluarga besar Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa.

Tulisan kali ini ingin sedikit menjelaskan apa saja seh yang dapat dilakukan oleh kawan2 yang telah bergabung.. yuk kita bahas satu persatu :

  • Setelah mendaftar, kawan-kawan dapat login dengan username dan password. Password yang diberikan pertama kali adalah random, nah agar tetap ingat passwordnya, ganti saja dengan password kesukaan kawan-kawan sendiri di bagian kiri atas : my account > setting > general.
  • Yang kedua, kawan-kawan dapat mengubah dan menambahkan profile pribadi di bagian : my account > profile > editprofile. Coba perhatikan secara seksama, ada 3 pilihan profile yang dapat diisi, yakni base, informasi pribadi, dan informasi kontak. Pada bagian ini pula kawan-kawan dapat mengubah foto profil, dengan menguploadnya di change avatar.
  • Kawan-kawan juga dapat saling mengirimkan pesan ke anggota yang lain. Caranya adalah masuk ke profil kawan yang mau dikirimkan pesan lalu klik send message.
  • Selain berkirim pesan, kawan-kawan juga dapat mengirimkan wired ke anggota lain layaknya wall di facebook, namun untuk mengirimkannya kawan-kawan harus saling berteman terlebih dahulu. Untuk saling berteman caranya mudah yakni masuk ke profil anggota tersebut, lalu klik add friend.
  • Pada social network ini, kawan-kawan juga dapat membuat ato bergabung ke group. Untuk bergabung kawan-kawan silahkan masuk ke halaman group lalu pilih group yang diinginkan untuk bergabung menekan pilihan request to join. Nah, untuk membuat group kawan-kawan tinggal klik di kiri atas portal di bagian : my account > group > create a group. Setelah bergabung dalam group kawan-kawan dapa t saling berdiskusi dengan menulis di wired group tersebut.
  • Nah, klo yang ini fitur bagi kawan-kawan yang suka menulis. Pada portal ini kawan-kawan dapat menulis sesuatu di blog. Mengenai ketentuan dan caranya silahkan baca panduan menulis
  • Selanjutnya , terdapat fitur untuk mengajak kawan-kawan keluarga besar LPI yang lain untuk bergabung di social network ini. Mungkin karena kawan tersebut belum tahu, jadi belum dapat bergabung bersama kita. Nah, yuk kita ingatkan dan ajak.. caranya.. hmm.. klik my account > friends > invite friends. Fitur ini dapat menggunakan email yahoo, gmail, dan hotmail.
  • Sebenarnya masih banyak fitur yang tersembunyi dan sedang dikembangkan, seperti berbagi foto, chat, dan forum. Namun untuk hal ini belum dapat dapat dijelaskan disini..hehe… tunggu edisi berikutnya ya kawan.
  • Terakhir, jika terdapat masukan dan kritik… silahkan sampaikan saja kawan… ditunggu lho. Terima kasih.

Fitur Terbaru di Social Network LPI

June 22, 2009 in LPI by admin

Saat ini admin social network LPI sedang berusaha meningkatkan fitur portal demi kenyamanan dan kepuasaan member. Adapun beberapa hal yang ditargetkan ialah adanya fitur invite friends ke social network LPI via email application, fitur untuk upload foto dan dapat dikomentari foto tersebut, fitur community blog dimana satu blog dapat ditulis oleh beberapa user, dan terakhir fitur koneksi antara portal ini dengan akun Facebook.

Untuk sampai saat ini, baru beberapa fitur yang dapat digunakan dari targetan diata yakni :

  • Fitur invite Friends yang dapat digunakan oleh user dengan cara mengarahkan mouse nya ke my account di kiri atas portal, lalu pilih menu friends, maka akan muncul pilihan invite friends. Untuk saat ini invite friends dapat dilakukan ke beberapa email aplikasi seperti Yahoo, Gmail, dan Hotmail.
  • Fitur upload foto juga sudah dapat diakses oleh kawan-kawan dengan mendekatkan mouse ke my account di kiri atas portal, lalu pilih menu album, kemudian upload file.
  • Fitur terakhir yang paling baru ialah community blog, dimana setiap blog dapat memiliki beberapa tipe user.

Semoga fitur-fitur baru ini bermanfaat. Amin.

Launching Social Network LPI Dompet Dhuafa

June 21, 2009 in LPI by admin

Akhirnya dengan usaha yang membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran, Social Networking LPI versi beta 1.0 ini selesai juga, setelah diawali dengan adanya blog multiuser LPI Dompet Dhuafa.

Terima kasih kepada Bu Nuk selaku Direktur LPI yang telah mempercayakan kepada  kami untuk mengurus website LPI beserta turunanya.  Mbak Diani sebagai FundRising LPI yang tak pernah lelah memperbaiki website LPI, Terima kasih juga temen-temen yang lain atas kontribusinya.

Dengan siapnya Social Networking ini bukan berarti selesai juga usaha peningkatan sistem informasi di LPI, Langkah ini hanyalah awal dari langkah yang banyak dan besar, Social Networking LPI ini hanyalah sebagai fasilitas dan sarana untuk membentuk komunitas maya antara manajemen, staff, dan penerima manfaat LPI Dompet Dhuafa maupun alumninya yang erat dan dapat saling berbagi informasi.

Apakah anda salah satu bagian dari LPI Dompet Dhuafa? Marilah kita berkontribusi dengan bergabung komunitas ini. Anda akan mendapatkan lebih dari teman, lebih dari web, dan lebih dari komunitas.

Selamat bergabung dengan Social Network LPI Dompet Dhuafa

Guru yang bergerak …

August 2, 2009 in Cerita by haryomojo

Hari itu dia harus memilih: Menerima perjodohannya atau menerima gelar adatnya. Ditimbangnya berkali-kali. Lalu ia memilih untuk mengambil gelarnya saja dan menolak perjodohan yang dilakukan ibunya. Ibrahim dan keluarganya merayakan gelar barunya dengan pesta tujuh hari tujuh malam. Setelah itu, ia resmi menyandang gelar Ibrahim Datuk Tan Malaka.

Pesta tujuh hari itu juga sekligus perayaan kelulusannya dari Kweekschool alias Sekolah Guru. Pada pesta itu, ia juga berpamitan karena mendapatkan kuliah di Rijkskweekschool di Haarlem, Belanda. Seluruh desa saweran membiayai ongkos perjalanannya ke Belanda. Tapi, masih kurang. Guru pembimbingnya pun turun tangan. Ia juga ikut nyumbang ongkos keberangkatan Tan Malaka ke Belanda.

Akhirnya, Tan Malaka berkuliah di Belanda. Di sana ia banyak belajar ilmu pendidikan. Dan tak lupa, ia juga bersentuhan dengan ideologi sangat populer pada masa itu, Sosialisme dan Komunisme. Namun, pemikirannya yang radikal membuatnya lebih dekat pada Komunisme.

Banyaknya hutang di negeri orang membuatnya pulang ke Hindia Belanda. Ia pun bekerja sebagai guru di sebuah perkebunan. Ia mengajar anak-anak kuli kontrak. dalam pekerjaannya itu, ia melihat penindasan dilakukan secara vulgar.

Tentu ia tak betah. Ia banting setir pindah ke Semarang. Di sana ia bergabung dengan Sarekat Islam cabang Semarang. Ia pun dipercaya memimpin sekolah-sekolah Sarekat Islam. Di sanalah ia mengajarkan ideloginya dan sepenuh idealismenya. Oleh karenanya, ia dikejar-kejar Belanda. Sampai akhirnya ia memilih meninggalkan Hindia Belanda dari pada dibuang ke Boven Digoel.

Riwayat Tan Malaka selanjutnya adalah menjadi aktivis pergerakan yang selalu dikejar-kejar Pemerintah Kolonial, Sekutu dan Jepang. Kelak ia kembali dan menjadi oposisi pemerintahan Sutan Sjahrir dari Partai Sosialis. Kaum oposisi yang disatukannya cukup besar untuk menekan Pemerintah, yaitu 141 organisasi politik dan laskar-laskar rakyat. Namun, ia tak pernah mendapatkan posisi di Pemerintahan. Dan, akhirnya ia mati dalam sebuah pertempuran. Bukan dibunuh oleh tentara negeri lain. Tapi, oleh tentara Indonesia sendiri.

Begitulah riwayat singkat Tan Malaka, seorang guru yang mendedikasikan hidupnya untuk perubahan sosial, ekonomi, politik, dan budaya (Tan Malaka menyebutnya dengan revolusi). Ia memberikan hidupnya pada pergerakan untuk mengubah kondisi negerinya. Harry Poeze, sejarawan Barat, menilai riwayat hidup Tan Malaka lebih seru ketimbang fiksi.

Tan Malaka mengajarkan pada kita bahwa seorang guru adalah agen perubahan. Untuk itu ia butuh ideologi yang kuat. Ia juga butuh gerakan untuk menyalurkan idealismenya. Bukan tunjangan profesi, tunjangan studi tour, tunjangan pengawas Ujian Kenaikan Kelas, dan tunjangan-tunjangan lainnya.

Apa jadinya jika guru tak punya ideologi yang kuat? Ia akan termakan tren yang dikendalikan oleh pasar. Biasanya tren itu bersifat kapitalistik yang hanya mencari keuntungan dari pendidikan. Atau juga ia akan senantiasa pragmatis mencari posisi aman. Atau juga, menjadi loyalis dari atasannya. Atau juga akan menjadi apapun yang mengombang-ambingkannya dalam arus yang tak jelas.

Menjadi guru sebenarnya memilih untuk bergerak. Menanamkan ideologi pada pesrta didiknya. Meski, tak ada rupiah yang mengalir. Atau, malah nombok biaya pendidikan. Tapi itulah pilihan.

Kakek Penjual Sepatu

August 2, 2009 in Cerita, Tens 2009 by dyu_Dwi Yuli@ni_eLang'08

Tahun ajaran baru, sungguh senang bisa jadi mahasiswa di universitas ternama ini, apalagi bisa masuk FK yang notabene adalah kampusnya orang- orang kaya. Sedangkan orang tuaku hanya berpenghasilan pas- pasan. Tak masalah bagiku, asalkan ada usah, semangat, dan doa kepadaNya, Insya Allah ada jalan keluar.

Seperti biasanya aku pergi ke kampus bersama teman- teman satu kost yang kebetulan ada yang satu jurusan denganku. Juga dengan teman- teman lain yang beda kost. Sudah menjadi kebiasaan kami selalu berangkat bersama ke kampus. Seperti biasa, kami selalu memilih jalur alternatif untuk cepat sampai ke kampus. Malas rasanya kalau harus lewat pintu gerbang depan, meskipun fakultas kami dekat dengan pintu gerbang depan. Kami lebih suka lewat gerbang belakang meskipun pintunya jarang dibuka lebar. Juga dengan anak- anak kost yang lain, yang mayoritas kost mereka dekat dengan gerbang belakang kampus. Gerbang ini dekat dengan Fakultas Peternakan, sehingga kami lebih suka menyebutnya Gerbang Peternakan.

Awal aku masuk kampus ini, di sekitar Gerbang Peternakan sepi, tidak seramai sekarang, di mana banyak penjual yang meramaikannya. Aku tidak tahu, apa karena waktu aku baru masuk kampus dengan kata lain masih menjadi mahasiswa baru, para penjual belum aktif berjualan, atau mereka baru berjualan saat ini. Yang jelas daerah sekitar Gerbang Peternakan sangat ramai oleh penjual berbagai makanan, minuman, majalah, dan pernak- pernik lain seperti gantungan kunci dan sepatu.

Satu hal yang menarik perhatianku, ternyata tidak hanya penjual makanan, minuman, majalah, dan pernak- pernik saja yang meramaikan kawasan ini. Di pojok dekat pintu gerbang ada seorang nenek berbaju compang- camping duduk beralaskan koran. Di depannya ada sebuah kaleng berisi uang. Seorang nenek pengemis yang mengharap belas kasihan dari orang lain. Tak hanya nenek itu ternyata. Masih banyak pengemis lain yang berada di sekitar Gerbang Peternakan ini. Di dekat nenek pengemis itu, ada seorang kakek yang duduk beralaskan tikar. Di depannya tak ada uang seperti halnya nenek pengemis tadi. Sepatu- sepatu dan payung- payung cantik berjajar di depannya. Dengan suaranya yang lemah, ia tawarkan sepatu dan payungnya,
“Sepatu cantik, Neng… Payung cantik Neng…”
Sangat jarang yang tertarik pada jualannya. Aku tak tahu kenapa, apa karena penjualnya yang sudah tua, atau karena kakek itu hanya berjualan di pinggir jalan, sehingga orang- orang yang lewat di depannya yang mayoritas adalah mahasiswa malu untuk membelinya.

Aku sempat tertarik pada sepatu berwarna putih yang dijual kakek itu. Tapi kuurungkan niatku untuk membelinya, mengingat jatahku bulan ini yang semakin menipis dan uang saku dari orang tua belum dikirim. Ya, mungkin lain kali saja. Sepatu yang kupakai sekarang juga masih layak pakai kok. InsyaAllah nanti kalau ada rejeki, pasti ada kesempatan untuk membelinya.

Setiap kali aku pergi ke kampus, aku selalu menjumpai kakek penjual sepatu itu. Ketertarikanku pada sepatu putih di depan kakek itu semakin menjadi- jadi. Dan sepatu cantik itu belum ada yang membelinya hingga berkali- kali aku menjumpai kakek itu berjualan di tempat yang sama.

Suatu hari, aku pergi ke kampus dengan salah seorang temanku yang bisa dikatakan dari golongan konglomerat, dari penampilannya pun sudah terlihat. Memang mayoritas teman- temanku di Fakultas Kedokteran adalah anak- anak orang kaya. Meskipun aku jauh berbeda dari mereka, aku tidak mempunyai perasaan minder atau malu mengakui jati diriku sebenarnya. Di tengah- tengah perbincangan kami yang biasa kami lakukan sambil berjalan, tiba- tiba terdengar suara,
“Sepatu cantik Neng… Ayo lihat dulu…”
Aku pun berhenti, “Eh, Ta berhenti dulu. Lihat deh sepatu putih itu! Cantik kan? Pengen deh… Tapi lagi gak ada uang…”
Dengan nada agak sinis Ata pun menjawab, “Apa? Sepatu murahan itu? Paling juga cepat rusak. Jualannya cuma di pinggir jalan gitu, paling ya kualitasnya juga jelek. Gak sekalian beli di mall aja yang kualitasnya udah terjamin?”. Begitulah jawaban temanku saat aku minta pendapatnya. Sungguh tidak mengenakkan hati. Kalau saja kakek itu mendengarnya, tentu ia merasa terhina. Namun aku tak tahu apakah kakek itu mendengarnya atau tidak. Semoga saja tidak. Aku maklumi sikap Ata yang seperti itu. Sepanjang jalan menuju kampus, tak henti- hentinya aku memperdebatkan hal yang kecil itu.
“Tidak kasihan kah kau pada kakek tadi? Andai kamu jadi dia, pastilah kamu berharap ada orang yang tertarik pada jualanmu dan membelinya. Memang posisi kita sebagai pembeli memberikan hak kepada kita untuk memilihnya, membeli atau tidak”, aku seolah- olah menceramahinya, dan seketika ia menjawab,
“Kamu pilih mana? Barang dengan kualitas bagus atau yang jelek?”
“Tentu aku pilih yang bagus….”, balasku.
“Nah, itu kamu tahu sendiri. Kamu tidak mengelak untuk membeli barang dengan kualitas bagus kan? Tentunya kamu tahu mana barang yang berkualitas dan tidak”
“Maksudmu?”
“Kualitas barang sebanding dengan harga dan dimana barang itu dijual”
“Masa? Sok tau kamu…”
“Bukannnya sepatu yang dijual kakek tadi gak kalah bagus dengan sepatu yang dijual di mall?”
“Bagus apanya? Sepatu murahan kayak gitu kamu bilang bagus…. Seleramu rendah banget sih? Gak gengsi kamu?”
“Haaahhhh…?? Apa??? Gengsi? Kenapa mesti gengsi? Yang kakek itu jual bukan barang curian kan? So, nyantai aja lagi…”
“Duuuh,,,, ni anak ya…. gak bisa dibilangin…”
“Ya udah deh,,, terserah kamu aja… capek aku”
“Haha… ya jelaslah terserah aku… yang beli aku, yang pakai juga aku”
“ Lagian,,, kenapa sih kamu? Gak suka ma kakek- kakek tadi? What happen? Dia pernah jahat ma kamu?”, jawabku sambil tertawa menyindir Ata.
“Gak juga sih?”
“Lha trus kenapa?”
“Bukannya aku gak suka ma kakek tadi, tapi gak suka aja ma barang- barang murahan kaya yang dijual kakek- kakek tadi. Apalagi jualannya di pinggir jalan kayak gitu. Kualitasnya pasti juga jelek. Beda ma barang- barang yang dijual di mall yang kualitasnya udah terjamin.”
“Eh,, belum tentu ya Neng. Kamu kira kakek tadi bikin sepatu ‘n payung sendiri? Pastinya dia juga dapat barang- barang tadi dari agen, grosir, atau apalah, yang asalnya juga dari pabrik. Sama halnya dengan barang- barang yang dijual di mall, yang asalnya juga dari pabrik. Lagian ya, kita juga lebih untung, soalnya harganya jauh lebih murah.”
“Terserah kamu aja wis. Males aku mbahasnya. Gak ada gunanya.”
“Tunggu dulu Ta,,, jangan tinggalin aku dong…”
“Masa gara- gara masalah kecil ini kamu marah?”
“Habisnya kamu gak bisa dibilangi sih,,,,”
“Iya…iya… terserah kamu aja…”

Ya, begitulah perbedaan cara pandang kami terhadap sepatu yang dijual kakek tadi. Mungkin karena dia dari orang kaya sehingga terbiasa membeli barang- barang di tempat- tempat terkenal dengan harga yang mahal pula, sehingga ia beranggapan bahwa barang yang dijual dengan harga murah atau di tempat yang tidak dikenal, kulitasnya sangat rendah. Ya terserah dialah. Beda pendapat boleh asal tetap rukun.
Siang hari yang panas saat sang surya tepat di tengah- tengah, karena sudah tidak ada kegiatan di kampus aku memutuskan untuk pulang ke kost, istirahat sejenak untuk melepas kepenatan selama di kampus.

“Hai Re…”
Dari belakang, Deby, temanku sekelas memanggil sambil menepuk bahuku.
“Ahh, Deby ternyata. Ngagetin aja kamu.”
“Yee,,, masa gitu aja kaget sih? Lagi nglamun ya? Hati- hati, ntar kesambet setan ganteng lho…”
“Enak aja. Siapa yang nglamun?”
“Lha trus kenapa dong? Masa dipanggil gitu aja kaget?”
“Ah kamu Deb,,Biasa aja lagi kalau aku kaget. Kamu sih datangnya tiba- tiba, pakai nepuk bahuku dari belakang lagi”
“Iya deh,,maaf… By the way, tumben sendirian? Mana temen- temenmu yang lain?”
“Masih ada kegiatan di kampus. Aku pulang dulua coz gak ada kerjaan di kampus. Untung ada kamu yang nemenin aku pulang. Hehe…”

Seperti biasanya, aku pulang lewat jalan yang sama seperti berangkat ke kampus tadi pagi. Pemandangan yang sama dengan tadi pagi, banyak orang berjualan di dekat gerbang belakang, tapi kali ini lebih ramai oleh pembeli yang mayoritas adalah mahasiswa. Apalagi sekarang saatnya jam makan siang, banyak yang antre membeli makanan.
“Re, berhenti dulu”
Tiba- tiba Deby menarik tanganku, “Da pa Deb? Kok berhenti? Cepetan pulang yuk…! Capek nih…”
“Bentar lah Re… Liat- liat sepatu dulu. Pengen beli ni..”
Ternyata yang dituju Deby sama dengan tujuanku tadi pagi, seorang kakek penjual sepatu yang duduk di dekat pintu gerbang. Seketika, kakek penjual sepatu itu langsung menyambut kami dengan senyuman dan tawaran halusnya,
“Sepatu cantik Neng, monggo dipilih…”, dengan suaranya yang agak lemah, kakek menawarkan jualannya kepada kami.
Dengan serentak kami menjawab, “Iya Kek, trima kasih”
“Liat ni Re, sepatunya bagus- bagus kan? Bantuin aku milih dong. Bingung nih…”
Pandanganku pun tertuju pada sepatu putih yang kulihat tadi pagi. Masa iya aku nawarin septu yang sudah kuincar pada orang lain? Tapi, biarlah aku tawarin dulu. Kalau Deby cocok, biar dia saja yang membelinya. Toh, masih banyak sepatu lain yang lebih bagus.
“Hmmm…. Yang mana ya Deb? Bagus- bagus semua sih… Coba deh yang putih itu!!!”, akhirnya kutawarkan sepatu pilihanku pada Deby.
“Oohh… Yang ini? Bagus juga Re…”, kelihatannya Deby tertarik dengan tawaranku.
“Boleh dicoba ya Kek?”
“Oh, silahkan Neng.. Boleh…boleh..”, dengan senang hati kakek mempersilahkan Deby untuk mencoba sepatu putih itu.
“Lihat ni Re!! Cocok gak?”, sambil bergaya, Deby menunjukkan sepatu yang dicobanya padaku.
“Subhanallah, cocok banget Deb ma kakimu yang putih.”
“Ah, kamu Re bisa aja”
“Lho,, beneran ni Deb. Kamu cocok banget ma sepatu putih ini.”, aku berusaha meyakinkan Deby atas pilihanku.
‘Hmmm,,, boleh juga nih. Tapi kok agak kekecilan ya? Berapa sih ukurannya?, Deby mengamati sepatu yag dibawanya, “Ooh,,, pantesan, cuma 37. Biasanya aku 39.”
“Kek,, ada yang ukuran 39 gak?”
“Bentar ya Neng, tak carikan dulu”, kakek itu mencari sepatu sesuai permintaan Deby.
“Ini Neng, yang ukuran 39 kebetulan tinggal sepasang. Silahkan dicoba dulu!”
Deby mencoba sepatu yang diambilkan kakek tadi, “Wah, lihat ni Re, pas banget ma kakiku.”
“Sipp… cocok banget Deb”, akhirnya Deby menyetujui tawaranku.
“Berapa kek harganya?”
“40 ribu Neng…”
“Gak boleh kurang ni Kek? 30 ribu ya?’, Deby mencoba menawarnya.
“Buat pelaris Neng, 35 ribu aja”, kakek memberikan tawaran harganya pada Deby.
“Yaa,,, kok mahal sih Kek? 30 ribu aja ya?”, Deby tetap kukuh dengan tawarannya.
“Yaudah deh Kek, saya beli”, Deby memberikan selembar uang 50 ribuan kepada kakek itu, dan kini sepatu putih cantik itu berada di tangan Deby.
“Tunggu ya Neng, saya ambilkan kembaliannya”, kakek penjual sepatu itu tengah asyik berkutat dengan dompetnya.
“Trima kasih ya Kek….”, Deby mengucapkan trima kasih pada kakek dan langsung pergi dengan menarik tanganku yang tengah mengirim SMS.
“Lho,,, Neng kembaliannya belum…!!!!”, dengan suaranya yang lemah, kakek berusaha berteriak memanggil Deby yang pergi dengan seenaknya.
“Buat Kakek aja kembaliannya”, Deby menjawab dari kejauhan.
“Iya,,, trima kasih ya Neng…”. Deby terus menarik tanganku, sementara aku masih memperhatikan kakek itu yang terlihat kebingungan oleh tingkah aneh Deby. Namun, akhirnya aku bisa melihat wajah cerianya yang sangat jarang aku lihat.
Sama halnya dengan kakek tadi, aku pun bingung melihat tingkah Deby. Sepanjang jalan menuju kost, tak henti- hentinya aku bertanya.
“Deb, apa maksudmu meninggalkan kakek tadi dengan seenak kamu? Gak sopan tahu!!!! Gak pamitan lagi…”
“Enak aja kamu,,, aku kan udah bayar, jadi ya terserah aku dong mau pergi apa gak.’
“Iya,,, tapi gak sopan gitu kamu pamitannya, kaya orang kabur gitu deh…”
“Iya deh…. aku salah…”
“Eh, Deb…BTW, kamu tadi gak ngambil kembalianmu ma kakek tadi?”, tanyaku dengan heran.
“Hmmm… Enggak… Emang kenapa?”, jawabnya dengan singkat.
“ Ya heran aja. Bukannya kamu tadi nawar harga sepatu jadi 30 ribu?”
“Iya,,,trus?, jawabnya singkat lagi.
“Kok sekarang kembaliannya malah gak kamu ambil sih? Bukannya sisa banyak ya? Aneh kamu ini”, tanyaku dengan penasaran.
“Iya, sepatu tadi aku beli dengan harga 50 ribu”
“Makin aneh deh kamu ini. Kakek tadi nawarin harga 40 ribu, kamu gak mau trus nawar jadi 30 ribu. Kakeknya yang gak mau dengan harga segitu, trus nawarin 35 ribu. Kamu setuju. Eh,,, kamu malah beli dengan harga 50 ribu. Trus, kamu tadi nawar harga buat apa???”, tanyaku semakin bingung.
“ Hmm… gini ya Re,,, kakek tadi kan bilang, harganya boleh ditawar. Ya aku tawar aja. Gak salah kan?”, jawabnya dengan santai.
“Iya, gak salah. Trus apa gunanya kamu nawar harga tadi, kalau endingnya kamu malah beli dengan harga lebih?”, tanyaku semakin penasaran dan bingung.
“Gini ya Re,,, kamu sering lihat kakek tadi mangkal dekat pintu gerbang kan?”, tanyanya padaku.
“Hmm… Iya, hampir setiap hari malah”.
“Terus, comment kamu apa tentang kakek tadi?”
“Ya, aku ngerasa kasihan ma kakek itu, soalnya dagangannya kurang laku.”, kusampaikan pendapatku dengan spontan.
“Sipp,, setuju aku. Itu kamu juga tahu gimana keadaan kakek tadi. Trus tindakanmu apa?”, tanyanya seperti polisi yang mengintrogasi penjahat yang baru tertangkap.
“Ya,,, sebenarnya aku pengen beli sepatu sama seperti yang kamu beli tadi, tapi karena jatahku bulan ini belum dikirim, jadi ya kubatalkan aja, nunggu sampai uang saku dikirim. Lagian, sepatuku juga masih bagus kok.”, jawabku apa adanya.
“Hmmm…Gitu ya?”
“Iya,,, makanya tadi aku tawarin kamu untuk beli sepatu yang sebenarnya sudah lama kuincar.”
“Kenapa? Kamu rela sepatu incaranmu dipakai orang lain?”
“Why not? Pabrik kan gak hanya bikin sepatu kayak gitu aja. Jadi ya pikirku nanti bakalan sepatu yang baru lagi. Karena kamu duluan yang beli, jadi ya hak kamu untuk memilikinya. Yaudahlah,,, anggap aja itu rejeki buat kamu.”
“Re, kasihan ya kakek tadi. Di usianya yang sudah senja seperti itu beliau masih tetap bekerja keras.”
“Iyalah Deb, ya mau bagaimana lagi. Demi kebutuhan hidup, mau tidak mau ya harus bekerja keras. Tapi aku salut sama kakek itu. Kalau kamu perhatikan disekitarnya juga ada kakek nenek lain seusianya, dan kamu tah kan apa yang mereka lakukan?”
“Meminta- minta maksudmu?”, tanya Deby.
“Yup, bener banget. Aku tak tahu mereka melakukan itu karena ada keterbatasan fisik atau yang lainnya sehingga tidak memungkinkan mereka untuk bekerja, dan harus meminta- minta. Yang jelas aku salut sama kerja keras kakek tadi. Perhatikan saja, sekarang ini bukan mereka yang lanjut usia saja yang menjadi pengemis. Di masjid kampus kita juga banyak anak- anak kecil yang meminta- minta. Sungguh keadaan yang sangat memprihatinkan dan butuh kepedulian kita. Menurutmu, apa yang pantas diberikan kepada mereka?”
“Sebenarnya, mereka kan tidak hanya butuh makan untuk hari ini, besik mereka juga butuh makan. Kalau hari ini kita memberi mereka, kemudian habis seketika, untuk kebutuhan esik harinya mereka tidak punya apa- apa lagi. Tentu akan minta- minta lagi, begitu seterusnya.”, begitulah jawaban Deby.
“Ya, benar juga Deb. Istilahnya lebih baik kita memberi mereka kail daripada memberi ikan. Mereka harus bisa mandiri, tidak bisa selamanya bergantung kepada orang lain.”, jelasku.
‘Yaudahlah Re,,, udah nyampai depan kost ni, aku duluan ya…!!! Keasyikan ngobrol ni, gak ada habisnya. Kita sambung lain kali ya. sampai jumpa besok di kampus. Oya, jangan lupa tugas buat besok, harus dikumpulkan. Ochey!!!”
“Oyi Deb!!!”, aku meninggalkan Deby di depan kostnya, kemudian melanjutkan perjalanan ke kostku tercinta.

Berikanlah Haknya…

August 2, 2009 in Tens 2009 by dyu_Dwi Yuli@ni_eLang'08

Dien Islam akan tegak kembali manakala disokong oleh generasi muda yang mempunyai kekuatan iman maupun kekuatan fisik. Pemuda muslim adalah sosok generasi muda yang harus tampil di barisan depan dalam mewujudkan cita- cita mulia ini. Tapi perlu diingat bahwa untuk tujuan dalam rangka tegaknya dien Islam, kekuatan iman dan kekuatan fisik saja tidaklah cukup. Jika kita merujuk kembali pada keberhasilan pasukan Islam di bawah pimpinan Rasulullah SAW. dalam sebagian besar peperangan menghadapi pasukan kafir, pasti kita akan mendapati bahwa selain dua kekuatan tersebut, diperlukan juga kekuatan finansial yang mendukungnya. Setelah peperangan berakhirpun, beliau menyuruh pasukannya untuk memungut harta ghanimah yang ditinggalkan musuh. Oleh karena itu kita tidak perlu memungkiri atau bahkan gengsi untuk mengakui bahwa kekuatan finansial juga penting dalam setiap perjuangan.

Sesungguhnya Allah-lah yang memberi rizki kepada seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini termasuk manusia. Dia berkuasa melapangkan maupun menyempitkan rizki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jika Allah menghendaki kesempitan rizki pada hamba- hamba-Nya maka rizki yang datang kepada mereka menjadi tidak lancar. Sebagai seorang muslim, janganlah kita melihat kecilnya rizki yang kita terima, tetapi lihatlah siapa yang mengkaruniakannya, hal ini akan membuat kita selalu mensyukuri rizki tersebut berapapun nilainya di mata kita. Dengan banyak bersyukur kepada Allah SWT walau sekecil apapun rizki yang diberikan kepada kita akan terasa lebih manis, Allah akan menambah dan memberikan keberkahan atasnya. Inilah janji Allah dalam Al-Qur’an:

Dan ingatlah juga, tatkala Rabbmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmatKu, mak sesungghnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim:7)

Salah satu wujud rasa syukur itu adalah dengan menginfaqkan sebagian harta kita di jalan Allah SWT. Allah berfirman:

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dial ah Pemberi rizki yang sebaik- baiknya. (QS. Sabaa’: 39)

’Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nyalah akan dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah:245)

Janji Allah SWT tentang orang- orang yang mau menginfaqkan sebagian harta di jalan-Nya ini bukanlah dusta. Ayat- ayat di atas menegaskan janji Allah, bahwa Dia akan menggantikannya dengan yang lebih baik, melipatgandakan dan akan melapangkannya. Namun sangat disayangkan, banyak di antara manusia yang mengaku dirinya beriman malah meragukan janji Allah ini. Pernahkah kita mendengar ada seseorang yang bangkrut atau perusahaannya gulung tikar gara- gara menginfaqkan hartanya untuk perjuangan Islam? Tidak pernah bukan? Ya, karena justru Allah akan semakin membuka lebar- lebar pintu rizkinya, sehingga akan berlipatgandalah harta kekayaannya. Demikianlah janji Allah dalam QS. Al- Baqarah ayat 261:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang- orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap- tiap butir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”

Juga apa yang diterangkan oleh Rasulullah SAW, “Barangsiapa mengeluarkan harta di jalan Allah, maka ditulis 700 kali lipat (dilipatgandakan hartanya)”. (HR. Turmudzi dari Khuraim bin Fatik). Dari keterangan tersebut, maka semakin jelaslah bahwa menginfaqkan harta di jalan Allah merupakan salah satu pembuka pintu rizki.

Kemiskinan akan mendorong seseorang mengingkari nikmat Allah. Maka ada yang mengistilahkan, fakir itu sangat dekat dengan kafir. Bagi orang- orang yang suka mengingkari nikmat Allah, lambat laun akan melemahlah imannya. Dia akan semakin jauh dari ketaatan dan akan semakin dekat dengan kekafiran. Orang- orang seperti inilah yang memerlukan uluran tangan kita, supaya ia tidak kufur dan keimanannya tetap terjaga. Sebab mereka sangat rentan terkena bujuk rayu dunia dan iming- iming kekayaan yang akan diberikan musuh- musuh Islam. Kita sebagai umat muslim patut menyadari hal ini, sehingga harus berusaha sekuat tenaga mengumpulkan harta demi memelihara keimanan dan menolong saudara- saudara kita yang lemah.

“ Barangsiapa tidak memperhatikan (mempedulikan) urusan kaum muslimin maka dia bukan termasuk dari mereka”. (HR. Abu Daud)

Jangan dulu kita bayangkan berapa banyak jumlah orang miskin yang harus yang harus kita tanggung dan berapa banyak harta yang harus kita berikan kepada mereka. Dengan menolong satu diantara mereka, maka terkurangilah beban umat ini. Tapi jika kita mampu menolong lebih banyak dari mereka maka lakukanlah. Pepatah mengatakan, “Jangan kau beri dia ikan, berilah dia kailnya”. Bila kita mempunyai cukup uang untuk dimanfaatkan sebagai modal usaha, tidak salah jika kita merangkul saudara- saudara kita untuk mengembangkan usaha kita. Mereka akan merasa lebih dihargai dari pada uang itu kita belikan barang untuk mencukupi kebutuhan mereka. Memang tidak salah jika kita memberinya langsung dalam bentuk barang, tapi dalam sekali tempo barang itu akan habis dan mereka akan kembali pada keadaannya semula, miskin tidak punya apa- apa.

Di sinilah peran kita sebagai pemuda sangat diperlukan demi tegaknya dien Islam. Kedermawanan kita sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan. Sebagai khalifah Allah di muka bumi, seorang muslim tidak boleh menyia- nyiakan harta yang ada di dalam genggamannya. Penggunaannya harus jelas sesuai dengan yang diajarkan syari’at Islam. Dan salah satu bentuk penyia- nyiaan terhadap harta adalah tidak mau mengeluarkan hak dari harta tersebut, atau mengeluarkannya tetapi buka pada tempat yang semestinya, misalnya untuk melakukan kemaksiatan seperti untuk berjudi dan mabuk- mabukan.

Seorang muslim harus menyadari betapa dahsyatnya ujian berupa harta. Karena harta, banyak ummat sebelum kita telah dibinasakan Allah, contohnya saja kaum Aad dan Fir’aun. Oleh karena itu Saudaraku, jangan mengira kalau harta yang kita peroleh dengan jerih payah kita dengan telah banyak menguras keringat, mengeluarkan tenaga, pikiran, dan banyak menyita waktu, seluruhnya adalah milik pribadi kita tanpa ada hak bagi yang lainnya. Kita tidak boleh menahan harta tersebut hanya untuk kepentingan pribadi. Allah SWT berfirman:

” Dan orang- orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)” (QS. Al-Ma’arij: 24-25)

Apabila harta yang kita peroleh tidak kita keluarkan haknya, sama artinya menahan racun yang ada dalam harta tersebut, dan akhirnya bisa meracuni seluruh harta yang ada. Sementara mengeluarkan haknya sama halnya dengan mengeluarkan racun yang ada dalam harta kita, sehingga menjadi bersihlah ia dan bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Jadi, yang perlu kita ingat adalah bahwa menahan harta tanpa memberikan haknya dan hanya untuk kepentingan pribadi akan berakibat penyesalan dunia akhirat. Selanjutnya kita harus menanamkan keyakinan bahwa setiap harta yang kita keluarkan haknya di jalan Allah pasti akan diganti dengan yang lebih baik oleh Allah. Allah berfirman:

” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang sebaik- baiknya. (QS. Sabaa’:39)

Alangkah indahnya kehidupan ini jikalau kita sebagai orang Islam sadar akan kewajiban mencari nafkah dengan tidak lupa mengeluarkan hakdari harta yang kita peroleh. Betapa sejahteranya suatu masyarakat jika para pemimpinnya mau bekerja dengan tangannya sendiri lalu menyisakan sebagian hartanya untuk disedekahkan kepada rakyat yang membutuhkan.(dyu_fkub_e_lang’08)

FreSh! Care: Social Entrepreneurship and Online Movement for Social Change

June 23, 2009 in Event by ardisragen

Social Entrepreneurship is a concept that has gained momentum during the past years. Bill Clinton calls it the next ‘big thing’. Business and social experts claim that future world change depends on social entrepreneurs. In a nutshell, it is a process that applies innovative solutions and business strategies to the world’s most pressing social problems.

Kalau dahulu, dalam penyelesaian permasalahan-permasalahan sosial hanya melibatkan sektor beberapa sektor saja yakni sektor publik, sektor swasta dan sektor sosial itu sendiri.
Belakangan ini para selebriti seperti Bono (U2) juga mulai tergugah untuk terlibat juga.

Saatnya sekarang komunitas-komunitas online ikut terjun pula!

Tema: “Social Entrepreneurship and Online Movement for Social Change”
Tanggal : Rabu, 24 Juni 2009, 7.00-9.30p.m. (Dinner served at 6.30p.m.)
Tempat: The Only One Club at FX Lifestyle X’nter - 5th floor, Senayan, Jakarta

Saweran: Free, ditraktir oleh ACER & Microsoft

Pada kesempatan kali ini, Acer, Microsoft dan Books for Hope (sebuah organisasi non-profit yg bertujuan merubah kehidupan anak-anak ditempat terpencil dan desa-desa miskin di Asia Tenggara melalui Pendidikan) didukung oleh FreSh sebagai salah satu forum Online Enable,yg merupakan bagian dari komunitas online mengadakan FreSh Workshop dengan tema “Social Entrepreneurship and Online Movement for Social Change”

Pembicara yg akan share di forum kali ini, sengaja dipilih dari berbagai sektor, para pembicara akan sharing tentang bagaimana dengan menggunakan ide-ide inovatif untuk penyelesaian permasalahan sosial di Indonesia. Terlebih dari itu para pembicara juga akan mengeksplorasi lebih jauh, sejauh mana komunitas-komunitas online dapat berperan serta aktif menjadi “sosial entrepreneurs”

Para Pembicara:

- Pandji (DJ, Celebrity and ACER’s partner in the C3 movement)
- Liem AyLing (Chief of Private Sector FR, UNICEF)
- Dita (Top Blogger, Microsoft)
- Grace Sai (Founder & CEO, Books for Hope)
- Olga Lydia (Model, TV Host, Books for Hope’s Ambassador for Reading)

Other highlights include:
- Launch of “Bringing ICT into Villages” collaboration between ACER-Microsoft and Books for Hope in our joint project to bring computer literacy to children and teachers in villages.
- Launch of Olga Lydia as Books for Hope’s Ambassador for Reading
- Pandji Concert (To be confirmed)

Berhubung kapasitas tempatnya agak terbatas, yakni kurang lebih 150orang, jadi yg datang agak telat, diharap maklum untuk mau “memBumi”… alias lesehan di area yg tersedia.Cheers!!

Ok, sampai jumpa disana!

sumber : http://www.facebook.com/event.php?eid=119052085630